Senin, 12 Juni 2006 (HU KOMPAS)
Warga Ciamis Kurang Percaya Diri; Situasi Sulit, Berat untuk Percepat Pembangunan
Ciamis, Kompas - Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Bina Pandu Mandiri Didi Ruswendi mengatakan, banyak warga Ciamis kurang percaya diri dengan nama Kabupaten Ciamis. Alasannya, mayoritas warga lebih merasa bangga jika disebut warga Galuh, bukan Ciamis.
"Menyandang nama Galuh memiliki kebanggaan tersendiri bagi warga. Selain itu, nama Galuh memiliki makna yang besar dibanding Ciamis," tutur Didi, Minggu (11/6), saat ditanya ber- kaitan dengan hari jadi ke-364 Kabupaten Ciamis yang jatuh Senin (12/6) hari ini.
Buktinya, lanjut Didi, selama ini banyak kelompok warga Ciamis yang berdiam di luar Ciamis tidak menyertakan nama Ciamis dalam nama kelompoknya. Misalnya, persatuan mahasiswa asal Ciamis di Yogyakarta bernama Galuh Rahayu, sementara persatuan warga Ciamis di Jakarta dan Bandung bernama Wargi Galuh.
"Bahkan, stadion di Ciamis saja namanya bukan Stadion Ciamis tetapi Stadion Galuh," Didi menambahkan.
Menurut dia, nama Galuh sudah menjadi ikon yang mempersatukan warga Ciamis saat ini. Nama ini pula melambangkan kebesaran Kerajaan Galuh yang dulu berada di wilayah Ciamis sekarang.
Adapun nama Ciamis sendiri, menurut Didi, sampai hari ini tidak memiliki arti yang jelas. "Jika menurut orang Sunda, Ciamis berarti air yang manis, sedangkan kalau orang Jawa, air yang anyir. Kata Ciamis ini tidak jelas asal usulnya," tutur Didi.
Selama ini, kemajuan di Kabupaten Ciamis belum dirasakan kuat oleh masyarakat. Didi menilai, perubahan nama kabupaten tersebut sangat penting dalam melakukan pembangunan di daerah. Disandangnya lagi nama Galuh bisa menjadi titik tolak kemajuan daerah. Ia menambahkan, "Nama Galuh ini pun bisa menjadi semacam magnet penarik bagi warga Ciamis yang berada di luar tanah kelahirannya untuk ikut membangun daerah asalnya."
Tantangan ke depan
Di sela-sela ziarah ke Situs Astanagede Kawali, Bupati Ciamis Engkon Komara menyatakan, dalam situasi ekonomi nasional yang terus fluktuatif, berat bagi Ciamis untuk mempercepat proses pembangunan. "Sekarang sulit mendatangkan investor, hasil bumi pun sulit terkirim," kata Engkon.
Isu flu burung yang menerpa Kabupaten Ciamis pun telah memukul sentra peternakan ayam di Jawa Barat itu. Meski demikian, kenyataannya selama ini belum ada kasus flu burung dari Kabupaten Ciamis.
Di samping itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis Kuswara Suwarman menambahkan, sektor peternakan menghadapi kendala fluktuasi harga ternak.
"Tidak seperti di luar negeri yang pemerintahnya sudah bisa menetapkan harga ternaknya sendiri. Di dalam negeri harga masih bergantung pada permintaan dan persediaan. Jadi, singkatnya, pemerintah belum bisa memproteksi harga ternak bagi petani," tutur Kuswara.
Menghadapi persoalan ini, seharusnya peternak menyiasatinya dengan mengendalikan jumlah pemeliharaan ternak karena banyaknya jumlah peternakan. Menurut dia, karena jumlah peternakan banyak, peternak harus memperkecil jumlah pemeliharaan ternak sehingga harga bisa terjaga stabil. (ADH)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar