Jumat, 19 Desember 2008

Mestinya Kabupaten Galuh bukan Ciamis

Senin, 12 Juni 2006 (HU KOMPAS)

Warga Ciamis Kurang Percaya Diri; Situasi Sulit, Berat untuk Percepat Pembangunan
Ciamis, Kompas - Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Bina Pandu Mandiri Didi Ruswendi mengatakan, banyak warga Ciamis kurang percaya diri dengan nama Kabupaten Ciamis. Alasannya, mayoritas warga lebih merasa bangga jika disebut warga Galuh, bukan Ciamis.
"Menyandang nama Galuh memiliki kebanggaan tersendiri bagi warga. Selain itu, nama Galuh memiliki makna yang besar dibanding Ciamis," tutur Didi, Minggu (11/6), saat ditanya ber- kaitan dengan hari jadi ke-364 Kabupaten Ciamis yang jatuh Senin (12/6) hari ini.
Buktinya, lanjut Didi, selama ini banyak kelompok warga Ciamis yang berdiam di luar Ciamis tidak menyertakan nama Ciamis dalam nama kelompoknya. Misalnya, persatuan mahasiswa asal Ciamis di Yogyakarta bernama Galuh Rahayu, sementara persatuan warga Ciamis di Jakarta dan Bandung bernama Wargi Galuh.
"Bahkan, stadion di Ciamis saja namanya bukan Stadion Ciamis tetapi Stadion Galuh," Didi menambahkan.
Menurut dia, nama Galuh sudah menjadi ikon yang mempersatukan warga Ciamis saat ini. Nama ini pula melambangkan kebesaran Kerajaan Galuh yang dulu berada di wilayah Ciamis sekarang.
Adapun nama Ciamis sendiri, menurut Didi, sampai hari ini tidak memiliki arti yang jelas. "Jika menurut orang Sunda, Ciamis berarti air yang manis, sedangkan kalau orang Jawa, air yang anyir. Kata Ciamis ini tidak jelas asal usulnya," tutur Didi.
Selama ini, kemajuan di Kabupaten Ciamis belum dirasakan kuat oleh masyarakat. Didi menilai, perubahan nama kabupaten tersebut sangat penting dalam melakukan pembangunan di daerah. Disandangnya lagi nama Galuh bisa menjadi titik tolak kemajuan daerah. Ia menambahkan, "Nama Galuh ini pun bisa menjadi semacam magnet penarik bagi warga Ciamis yang berada di luar tanah kelahirannya untuk ikut membangun daerah asalnya."
Tantangan ke depan
Di sela-sela ziarah ke Situs Astanagede Kawali, Bupati Ciamis Engkon Komara menyatakan, dalam situasi ekonomi nasional yang terus fluktuatif, berat bagi Ciamis untuk mempercepat proses pembangunan. "Sekarang sulit mendatangkan investor, hasil bumi pun sulit terkirim," kata Engkon.
Isu flu burung yang menerpa Kabupaten Ciamis pun telah memukul sentra peternakan ayam di Jawa Barat itu. Meski demikian, kenyataannya selama ini belum ada kasus flu burung dari Kabupaten Ciamis.
Di samping itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis Kuswara Suwarman menambahkan, sektor peternakan menghadapi kendala fluktuasi harga ternak.
"Tidak seperti di luar negeri yang pemerintahnya sudah bisa menetapkan harga ternaknya sendiri. Di dalam negeri harga masih bergantung pada permintaan dan persediaan. Jadi, singkatnya, pemerintah belum bisa memproteksi harga ternak bagi petani," tutur Kuswara.
Menghadapi persoalan ini, seharusnya peternak menyiasatinya dengan mengendalikan jumlah pemeliharaan ternak karena banyaknya jumlah peternakan. Menurut dia, karena jumlah peternakan banyak, peternak harus memperkecil jumlah pemeliharaan ternak sehingga harga bisa terjaga stabil. (ADH)
Minggu , 26 Oktober 2008 ,
Drs Didi Ruswendi ASF
Tak Ada yang Tak Mungkin
andri m dani
KETIKA Disdik Ciamis bekerjasama dengan LSM Bina Pandu Mandiri (BPM) dan sebuah penerbit terkenal me-lounching penjualan buku pelajaran murah di Aula Pramuka Ciamis, beberapa waktu lalu, banyak pihak yang tercengang. Tapi, saat itu, Drs Didi Ruswendi ASF hanya tersenyum. "Jika ada niat, tak ada yang tak mungkin," katanya.
BANYAK orang tercengang karena saat launching dilakukan, urusan buku pelajaran murah memang sedang hangat-hangatnya dibicarakan.
Depdiknas, saat itu sebenarnya juga telah membeli hak cipta sejumlah buku pelajaran yang naskahnya bisa diunduh dari situs mereka.
Tapi, di sebagian tempat, bahkan di Kota Bandung, sebagian guru masih berkutat pada bahasan tentang bagaimana cara mengunduhnya.
Ciamis, memang menjadi yang pertama di negeri ini yang memelopori pengunduhan dan penyebarluasan hardcopy-nya dalam bentuk buku murah. Dua orang guru asal Bandung yang penasaran bahkan sengaja datang ke Ciamis untuk membuktikan itu semua. Mereka langsung tercengang karena selain harganya yang paling mahal hanya Rp 15 ribu, tampilan buku juga sangat bagus, bahkan luks.
Lantas, siapakah Drs Didi Ruswendi ASF? Ia adalah Direktur LSM Bina Pandu Mandiri, salah seorang tokoh yang berada di balik kisah sukses program buku murah di Ciamis tersebut.
"Harganya hanya sepertiga dari buku pelajaran yang selama ini digunakan jadi pegangan siswa di sekolah-sekolah," ujar Drs Didi bangga.
Didi memang pantas bangga, sebab peluncuran perdana program buku murah di Aula Pramuka awal Agustus silam itu adalah juga lounching outlet buku murah BPM Books Store yang kiosnya menempati salah satu ruangan di Gedung Pramuka Kwarcab Ciamis. Hingga Sabtu (25/10), BPM Books Store merupakan satu-satunya outlet buku murah di Ciamis yang khusus berjualan buku pelajaran yang HET-nya sudah diatur Permendiknas No 28 tahun 2008.
Sejak peluncurannya, BPM Books Store di Gedung Pramuka tak pernah sepi dari kehadiran orang tua murid, siswa, guru, atau komite sekolah yang datang untuk membeli atau memesan buku.
"Tiap hari ada saja yang datang ke sini untuk membeli buku murah. Sering juga ada yang kecele, disangkanya outlet BPM ini menyediakan segala buku dengan harga murah. Padahal kita hanya menyediakan buku-buku mata ajaran sesuai dengan Permendiknas No 28 tahun 2008," ujar Didi yang juga penanggung jawab BPM Books Store.
Dibantu dua orang stafnya yakni Yamin dan Yani yang berstatus sebagai mahasiswa Unigal, setiap hari BPM Books Store melayani masyarakat mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00.

"Omzetnya lumayan juga tiap hari mencapai Rp 2 juta sampai Rp 3 juta. Karena ini buku murah, riskan juga bicara soal untung. Sebenarnya dengan HET yang sudah dicantum dalam Permendiknas No 28/2008 tersebut, pihak percetakan sampai penjual terakhir sudah mendapat untung 15 persen. Karena harga bukunya murah tentu untungnya juga kecil, hitung saja 15 persen dari harga buku Rp 5.500, misalnya. Belum lagi dikurangi biaya transportasi. Jadi, sebenarnya tak ada untuk secara materi," ujar Didi.(andri m dani)
Belum Semua Mata AjaranDIDI Ruswendi mengatakan, sejauh ini, buku pelajaran yang mereka jual memang hanya untuk SD/MI dan SMP/Mts. Itu pun baru untuk mata ajaran tertentu. "Belum semua mata ajaran," imbuhnya.
Meski demikian, lanjutnya, respon masyarakat luar biasa. "Yang dat-ang ke sini tak hanya dari Ciamis, tetapi juga dari Banjar, Tasikmalaya bahkan Bandung. Kini sudah banyak SD yang menggunakan buku murah ini untuk pegangan di sekolah masing-masing. Buktinya ada sekolah yang memesan paket buku dengan nilai jutaan rupiah. Itu artinya buku murah ini sudah dijadikan pegangan bagi guru dan murid di sekolah tersebut. Salah SD yang sudah menggunakan buku murah sebagai buku pegangan di Ciamis Kota adalah SDN Ciamis VII," ujar Didi.
Didi mengakui bahwa sampai saat ini memang belum seluruh SD/MI di Kabupaten Ciamis menggunakan buku murah sebagai buku pegangan di sekolah masing-masing.
"Kendala utamanya adalah soal waktu. Tahun ajaran baru 2008/2009 dimulai pertengahan Juli. Sementara peluncuran buku murah baru dimulai pecan pertama Agustus, itu pun stoknya masih terbatas. Padahal pihak sekolah, terutama di Ciamis Kota sudah telanjur menganjurkan muridnya menggunakan buku terbitan cetakan komersil untuk buku pegangan. Bagi sekolah yang belum terlanjur, memang punya kesempatan untuk memesan buku murah," paparnya.
Didi berharap tahun ajaran baru 2009/2010 nanti, seluruh SD/MI, SMP/MTs di Ciamis sudah menggunakan buku murah berdasarkan ketentuan Permendiknas No 28 tahun 2008 sebagai buku pegangan di sekolah masing-masing.
"Kalau masih ada guru yang menganjurkan siswanya untuk menggunakan buku pelajaran dari penerbit komersil itu jelas mengundang tanda tanya," ujar Didi.(andri m dani)
Gratis Tak Selalu BagusSEJAK mendirikan LSM Bina Pandu Mandiri (BPM) tahun 1998, Didi Ruswendi memang selalu memberikan kesempatan bagi orangtua siswa untuk mengadu ke LSM yang dikelolanya, terutama setiap tahun ajaran baru.
"Setiap tahun ajaran baru kita buku hotline khusus, baik itu melalui laporan surat via PO BOX, laporan lisan atau tulisan. Setelah HP memasyarakat, kita buka hotline melalui SMS.Soal mahalnya harga buku, beratnya beban uang pembangunan atau DSP, selalu menjadi keluhan klasik bagi orang tua siswa setiap tahun ajaran baru," ujar Didi.
Lahirnya Permendiknas No 28 tahun 2008, kata Didi, merupakan solusi nyata bagi keluhan orang tua siswa atas mahalnya buku-buku pelajaran yang harus mereka beli untuk anak-anak setiap tahun ajaran baru.

Masalahnya, buku-buku murah itu masih dalam bentuk e-book. Sementara, tak semua orang punya kesempatan untuk membuka internet.
Ini pula yang menurut Didi mendasari ide mencetak buku-buku yang hak ciptanya telah dibeli Depdiknas itu. Gayung bersambut karena tak lama berselang, ada penerbit yang mau memfasilitasi itu.
Namun, di sela kegembiraannya, Didi mengaku merasa khawatir jika solusi cerdas ini kembali berubah saat terjadi pergantian menteri atau presiden.
"Selama ini kan sudah jadi pameo ganti mentri ganti kebijakan. Mudah-mudahan hal tersebut tidak terjadi," harap Didi.
Ke depan, harap Didi, bubu-buku murah ini bisa dicetak dengan pendanaan dari APBD.
"Tapi, jakan kemudian dibagikan secara gratis kepada siswa di sekolah-sekolah. Yang gratis cukup siswa yang tidak mampu. Bagi siswa dari keluarga mampu tetap harus membeli meski harganya, misalnya hanya setengah dari HET berdasarkan Permendiknas No 28 tahun 2008 tersebut. Ini hanya untuk rasa bertanggung jawab dan rasa memiliki. Kalau semuanya gratis, nanti banyak orang tua yang lupa kalau ia sedang menyekolahkan anaknya. Gratis itu tak selalu bagus, lebih baik murah tapi berkualitas," ingat Didi. (andri m dani)
Pasar Palasari di CiamisSUKSES dengan program buku murahnya, Drs Didi Ruswendi ASF ternyata tak hendak berhenti. Ia bercita-cita mengembangkan BPM Books Store menjadi cikal bakal bursa buku murah seperti halnya Pasar Palasari Bandung.
"Di lingkungan Gedung Pramuka ini masih ada lahan yang cukup luas untuk dibangun kios-kios buku. Kios tersebut nanti dikhususkan untuk menjual buku-buku murah mirip Pasar Palasari Bandung. Dirancang tidak hanya akan menjual buku-buku murah seperti yang diamanahkan Permendiknas No 28 tahun 2008 tersebut, tetapi juga buku umum berikut buku teks book untuk mahasiswa dengan harga miring. Di Ciamis ini kan banyak mahasiswa, jadi mau cari buku untuk kuliah tak perlu lagi ke Bandung," katanya.
Hasrat "memindahkan" Pasar Palasari ke Ciamis sendiri, menurut Didi, merupakan obsesi lama yang sudah diawali dengan membentuk BPM Books Store.
Bila nantinya ternyata berkembang, bukan tak mungkin outlet buku murah di Komplek Gedung Pramuka tersebut akan menjadi sentra buku murah tak hanya bagi Ciamis, tetapi juga Tasikmalaya, Banjar bahkan juga Cilacap. "Di Unigal Ciamis mungkin sepertiga mahasiswanya berasal dari Cilacap, dan itu merupakan potensi yang bagus," imbuhnya.
Dan dalam rangka mempromosikan buku murah versi Permendiknas No 28 tahun 2008 yang kini dikelolanya, mulai November nanti, Didi akan melakukan pameran keliling ke setiap kecamatan di Ciamis, terutama kecamatan pelosok.
Mengingat selama ini program buku murah baru dikenal luas di kawasan Ciamis Kota, sementara wilayah kecamatan luar Ciamis Kota belum terjangkau dengan baik.
"Makanya kami akan melakukan road show, berpameran keliling kecamatan. Sudah diagendakan, tidak hanya buku murah versi Permendiknas No 28 tahun 2008 yang akan dipamerkan, tetapi kami juga sudah menghubungi sejumlah penerbit untuk mengikutsertakan buku terbitannya. Tak terbatas hanya buku berkaitan dengan dunia pendidikan, tetapi juga buku lainnya," tandas Didi.(andri m dani)

Penggila Persib yang Tak Pernah Main Bola
SOSOK Didi Ruswendi boleh jadi merupakan sosok warna-warni dengan banyak talenta. Meski nyaris tak pernah main bola, ternyata ayahanda dari Falih dan Salsabila tersebut penggemar berat Persib. Setiap skuad Maung Bandung tersebut bertarung, ia selalu mengikutinya.
Bahkan ia juga merupakan salah seorang penggagas terbentuknya Viking Galuh sebagai salah satu wadah bobotoh Persib di Ciamis dan sekaligus menjadi sesepuhnya.
Kesebelasan luar negeri pun tak luput dari pengamatan Didi Ruswendi. Atas kecintaannya kepada sepak bola, lelaki kelahiran Werasari tanggal 5 Juni 1965 pernah dipercaya mengelola Liga Remaja PSGC.
Sebagai aktivis pramuka, Didi memang telah banyak melahirkan kader. Menurut Didi, kekagumannya kepada Alm H Mashudi (mantan Ketua Kwarnas)-lah yang membuatnya tetap bertahan sebagai instruktur pramuka di DKC Pramuka Ciamis hingga saat ini.
Tahun 1995-2000, Didi pernah menjadi Ketua PD Perkumpulan Filatelis Indonesia Cabang Ciamis. Saat itu ditingkat nasional yang menjadi Ketua Umum organisasi penggemar perangko tersebut adalah H Letjen (Purn) Mashudi.
Di bidang kepemudaan, Didi termasuk yang sudah banyak makan asam garam. Hal yang sama juga berlaku pada kiprahnya di dunia politik.
Sewaktu menjadi mahasiswa IAID, Didi sudah menjadi Ketua Umum HMI Komisariat Ciamis. Ia juga sempat menjadi Ketua KNPI Ciamis, juga wakil sekretaris AMPI Ciamis tahun 1992-1997.(andri m dani)

Kembali ke Rumah
HAL lain yang juga menjadi catatat prestasi Didi Ruswendi adalah tahun 2000 ketika ia dan rekan-rekannya di BPM mendirikan rumah singgah untuk menampung anak jalanan. Inilah rumah singgah pertama dan satu-satunya di Ciamis.
Waktu itu ada 80 anak jalanan yang dibina BPM, disediakan tempat tinggal dan makanannya, juga dilatih keterampilan serta disalurkan pendidikannya.
Sampai tahun 2008 ini, rumah singgah yang dikelola LSM BPM sudah lima kali pindah kontrakan. "Selama lima kali pindah rumah kontrakan tersebut, ada sekitar 400 anak jalanan yang berhasil dibina BPM. Karena motto rumah singgah BPM adalah kembali ke rumah. Setelah dilakukan pembinaan, BPM berhasil mengembalikan 200 anak singgah ke keluarganya," kata Didi.
Dari ratusan anak singgah yang pernah dibina BPM tersebut, menurut Didi, ada yang berhasil melanjutkan sekolah, ada yang berhasil jadi tentara yakni Tarsono yang kini menjadi prajurit Yon Raider 323. Ada yang bekerja sebagai kernet, penjaga toko, sopir dan sebagainya.
"Sekarang yang masih bertahan di rumah singgah tinggal 10 orang," pungkasnya.(andri m dani)
Dikutip dari HARIAN UMU TRIBUN JABAR.